Kultur merupakan pandangan hidup
yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara
berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam ujud fisik maupun
abstrak. Kultur ini juga dapat dilihat
sebagai suatu perilaku, nilai-nilai, sikap hidup, dan cara hidup untuk
melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang
persoalan dan memecahkannya. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan
diwariskan oleh satu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan
lembaga utama yang yang didesain untuk memperlancar proses transmisi kultural
antargenerasi tersebut.
Konsep kultur di dunia pendidikan
berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri, yakni merupakan situasi
yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses
pembelajaran secara efisien dan efektif. Salah satu ilmuwan yang memberikan
sumbangan penting dalam hal ini adalah Antropolog Clifford Geertz yang
mendefinisikan kultur sebagai suatu pola pemahaman terhadap fenomena sosial,
yang terekspresikan secara eksplisit maupun implisit. Berdasarkan
pengertian kultur menurut Clifford Geertz tersebu, kultur sekolah dapat
dideskripsikan sebagai pola nilai-nilai, norma-norma, sikap, ritual, mitos
dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah.
Kultur sekolah tersebut sekarang ini dipegang bersama baik oleh kepala sekolah,
guru, staf administrasi maupun siswa, sebagai dasar mereka dalam memahami
dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah.
Pengaruh kultur sekolah atas
prestasi siswa di Amerika Serikat telah dibuktikan lewat penelitian empiris.
Kultur yang “sehat” memiliki korelasi yang tinggi dengan a) prestasi dan
motivasi siswa untuk berprestasi, b) sikap dan motivsi kerja guru, dan, c) produktivitas dan kepuasan kerja
guru. Namun demikian, analisis kultur sekolah harus dilihat sebagai bagian
suatu kesatuan sekolah yang utuh. Artinya, sesuatu yang ada pada suatu kultur
sekolah hanya dapat dilihat dan dijelaskan dalam kaitan dengan aspek yang lain,
seperti, a) rangsangan untuk berprestasi, b) penghargaan yang tinggi terhadap
prestasi, c) komunitas sekolah yang tertib, d) pemahaman tujuan sekolah, e)
ideologi organisasi yang kuat, f) partisipasi orang tua siswa, g) kepemimpinan
kepala sekolah, dan, h) hubungan akrab di antara guru. Dengan kata lain, dampak
kultur sekolah terhadap prestasi siswa meskipun sangat kuat tetapi tidaklah
bersifat langsung, melainkan lewat berbagai variabel, antara lain seperti
semangat kerja keras dan kemauan untuk berprestasi.
Di Indonesia belum banyak
diungkap penelitian yang menyangkut kultur sekolah dalam kaitannya dengan
prestasi siswa. Tetapi mengingat bahwa sekolah sebagai suatu sistem di manapun
berada adalah relatif sama, maka hasil penelitian di Amerika Serikat tersebut perlu
mendapatkan perhatian, paling tidak dapat dijadikan jawaban hipotetis bagi
persoalan pendidikan kita.
Faktor pembentuk kultur sekolah
misalnya adalah nilai, moral, sikap dan perilaku siswa tumbuh berkembang selama
waktu di sekolah, dan perkembangan mereka tidak dapat dihindarkan yang
dipengaruhi oleh struktur dan kultur sekolah, serta oleh interaksi mereka
dengan aspek-aspek dan komponen yang ada di sekolah, seperti kepala sekolah,
guru, materi pelajaran dan antar siswa sendiri. Aturan sekolah yang ketat
berlebihan dan ritual sekolah yang membosankan tidak jarang menimbulkan konflik
baik antar siswa maupun antara sekolah dan siswa. Sebab aturan dan ritual
sekolah tersebut tidak selamanya dapat diterima oleh siswa. Aturan dan ritual
yang oleh siswa diyakini tidak mendatangkan kebaikan bagi mereka, tetapi tetap
dipaksakan akan menjadikan sekolah tidak memberikan tempat bagi siswa untuk
menjadi dirinya.
Kultur sekolah biasanya berkaitan
erat dengan visi yang dimiliki oleh kepala sekolah tentang masa depan
sekolah. Kepala sekolah yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan sekolah
di masa depan akan lebih sukses dalam membangun kultur sekolah. Untuk membangun
visi sekolah ini, perlu kolaborasi antara kepala sekolah, guru, orang tua, staf
administrasi dan tenaga profesional. Kultur sekolah akan baik apabila: a)
kepala sekolah dan guru dapat berperan sebagai model, b) Kepala sekolah mampu
membangun tim kerjasama, c) Kepala sekolah dan guru harus memahami kebiasaan
yang baik untuk terus dikembangkan. Kepala sekolah dan guru harus mampu
memahami lingkungan sekolah yang spesifik tersebut. Karena, akan memberikan
perspektif dan kerangka dasar untuk melihat, memahami dan memecahkan berbagai
problem yang terjadi di sekolah. Dengan pemahaman terhadap permasalahan yang
kompleks sebagai suatu kesatuan secara mendalam, kepala sekolah dan guru akan
memiliki nilai-nilai dan sikap yang amat diperlukan dalam menjaga dan
memberikan lingkungan yang kondusif bagi berlangsungnya proses pendidikan.
Jadi yang dimaksud dengan kultur
seolah adalah seperangkat kumpulan nilai kepercayaan, nilai tradisi, dan pola
pikir untuk bagaimana bertindak dalam suatu lingkungan sekolah sebagai suatu
identitas sekolah yang menentukan proses perkembangan anak didiknya.
Unduh referensi Kultur Sekolah silakan KLIK di sini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar